Artikel Tentang LKS

Artikel Tentang LKS

PENGARUH PEMAKAIAN LKS JENIS TERTENTU TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA DAN BERPIKIR KRITIS PADA SISWA SD TINGKAT RENDAH

Oleh: Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd.

Pendahuluan

Saat ini di sekolah-sekolah banyak ditemui penggunaan buku jenis LKS (Lembar Kerja Siswa) yang sebenarnya merupakan buku rangkuman materi pelajaran yang disertai dengan kumpulan soal, terutama soal-soal pilihan ganda. LKS yang semestinya dikerjakan di sekolah dalam kegiatan pembelajaran, seringkali juga harus dikerjakan di rumah sebagai PR. Dalam LKS jenis ini, materi pelajaran biasanya tidak disampaikan dalam bentuk uraian/bacaan, melainkan sudah dalam bentuk rangkuman atau poin-poin penting saja. Akibatnya, ketika menggunakan LKS ini, siswa-siswa cenderung langsung mengerjakan soal-soal, yang pada umumnya berupa soal-soal pilihan ganda. Jika siswa tidak dapat mengerjakan sebuah soal, maka siswa akan mencari jawabannya dalam rangkuman materi pelajaran di LKS tersebut. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, bukan tidak mungkin bahwa kemampuan siswa untuk memahami bacaan, berpikir kritis, dan berpikir kreatif tidak akan berkembang. Masalah ini menarik juga karena ini terjadi pada anak-anak di SD - bukan di jenjang pendidikan tinggi seperti SMA dan Perguruan Tinggi - yang semestinya banyak dilatih untuk memiliki kemampuan membaca yang baik, berpikir kritis, dan berpikir kreatif.

Deskripsi Masalah

Buku LKS jenis tertentu yang dimaksud dalam tulisan ini adalah LKS yang berisi rangkuman materi pelajaran berupa poin-poin penting, kemudian diikuti dengan soal-soal latihan yang terutama berbentuk pilihan ganda. Pengaruh dari penggunaan buku LKS jenis ini akan diamati dalam hal kemampuan memahami bacaan secara kritis dan kemampuan menjawab soal secara kritis dan kreatif. Secara umum, masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut.

  1. Apakah pengaruh model rangkuman materi pelajaran yang berupa poin-poin penting tersebut terhadap kemampuan membaca kritis pada siswa SD tingkat rendah (kelas 1 – 3) ?
  2. Apakah pengaruh penggunaan model soal-soal pilihan ganda dalam buku LKS tersebut terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif pada siswa SD tingkat rendah (kelas 1 – 3) ?

Analisis Kasus

Berpikir tidak dapat dipisahkan dari isi materi pelajaran, karena kenyataannya berpikir merupakan sebuah cara untuk mempelajari isi materi pelajaran. Dalam suatu pembelajaran, siswa sebaiknya diajarkan untuk berpikir logis, menganalisis dan membandingkan, serta mempertanyakan dan mengevaluasi (Raths et al, 1967). Ketika membaca suatu teks, siswa harus dilatih untuk membaca secara kritis. Membaca secara kritis didefinisikan sebagai belajar mengevaluasi dan kemudian menyimpulkan isi suatu bacaan, bukan sekedar menghafal fakta atau informasi yang dicantumkan dalam suatu bacaan. Salah satu metode untuk meningkatkan kemampuan membaca kritis adalah dengan menyediakan bahan bacaan seperti koran, majalah, dan artikel di dalam kelas (Carr, 1990). Dengan membaca media tersebut, siswa akan dilatih untuk menjadi pembaca yang mempertanyakan isi dari bacaan. Siswa akan membangun argument-argumennyanya sendiri untuk kemudian disampaikan dalam diskusi kelas.

Apa yang disajikan dalam suatu rangkuman materi pada buku LKS? Sebagian besar buku LKS hanya menyajikan rangkuman materi yang berupa poin-poin penting saja, bukan suatu bacaan yang lengkap. Dengan model ini, siswa diibaratkan hanya dijejali dengan fakta dan informasi saja, tanpa diberi kesempatan untuk mengevaluasi dan menyimpulkan sendiri materi pelajaran tersebut. Model rangkuman seperti ini mungkin saja baik bagi siswa yang sudah terlebih dulu membaca materi pelajaran yang ada di dalam buku teks. Akan tetapi, masalahnya adalah bahwa banyak sekolah - terutama sekolah negeri - yang menjadikan LKS ini sebagai satu-satunya buku pelajaran. Dengan demikian, melalui bacaan yang berupa rangkuman materi tersebut dalam LKS tersebut, kesempatan siswa untuk membaca kritis tidak tersedia. Bacaan-bacaan seperti itu hanya mengajarkan kepada siswa untuk menghafalkan fakta-fakta yang ada tanpa memberikan kesempatan untuk memikirkannya lebih jauh. Kondisi ini mirip dengan apa yang dituliskan oleh Raths dkk pada tahun 1967 yang menyatakan bahwa “…memorizati on, drill, homework, and the quiet classroom were rewarded, while “…inquiry, reflection and the consideration of alternatives were frowned upon” (Carr, 1990). Kemudian bagaimana dengan model soal pilihan ganda yang terdapat dalam buku LKS tersebut? Pada tahun 1991 badan American Education Reform menyatakan bahwa soal-soal pilihan ganda tidak dapat digunakan untuk mnguji kemampuan berpikir tingkat tinggi, kemampuan problem solving, kreativitas, dan sikap inisiatif. Jenis soal pilihan ganda hanya dapat melatih kemampuan berpikir tingkat rendah seperti menghafal (Lynn, et al, 1991).

Dalam kenyataannya, banyak kita jumpai siswa-siswa SD kelas 1-3 yang terlatih untuk menjawab soal-soal pilihan ganda karena kemampuan mereka untuk menghafal soal-soal tersebut relatif tinggi walaupun kemampuan mereka untuk bertanya dan menyimpulkan relatif rendah. Siswa-siswa ini boleh jadi akan kesulitan untuk menjawab soal-soal yang memiliki model jawaban terbuka, misalnya jawaban yang menuntut pendapat pribadi siswa, atau soal-soal yang menghubungkan beberapa fakta (soal kasus atau problem solving). Sudah cukup banyak penelitian yang mempelajari pengaruh berbagai bentuk assessment terhadap motivasi belajar siswa. Apakah siswa akan lebih merasa terlibat jika tugas-tugas yang diberikan berbentuk kasus dan pemecahan masalah? Bagaimana cara siswa belajar jika mereka mengetahui jenis soal yang akan diberikan berupa soal pilihan ganda? Apakah berbeda dengan jika soal yang akan diberikan berupa soal esai? Kaitannya dengan buku LKS yang digunakan siswa-siswa SD kelas 1-3 ini, pada umumnya siswa akan dapat dengan mudah mengerjakan soal-soal yang tercantum di dalamnya, karena hamper bisa dipastikan bahwa soal-soal pilihan ganda tersebut merupakan soal-soal hafalan, yang merupakan semacam pengulangan dari rangkuman materi yang diberikan dalam LKS tersebut. Soal-soal jenis pemecahan masalah, pertanyaan terbuka atau esai, dan tugas-tugas yang lebih menantang hampir pasti tidak ditemukan dalam LKS model ini. Padahal, soal-soal jenis pemecahan masalah, pertanyaan terbuka atau esai, dan tugas-tugas yang lebih menantang seperti itu akan sangat melatih kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif, yang mestinya dibiasakan untuk siswa-siswa SD ini. Dalam artikelnya, Vito (1991) memberikan pendapatnya yang menentang pelaksanaan test bagi siswa-siswa tingkat sekolah dasar dalam bentuk-bentuk test terstandar. Ia menyarankan untuk menggunakan performance test yang dilakukan oleh guru sendiri untuk menilai prestasi siswa di tingkat sekolah dasar.

Alternatif Pemecahan

Berdasarkan paparan kasus pemakaian LKS jenis tertentu terhadap kemampuan membaca dan berpikir kritis pada siswa SD tingkat rendah, dapat ditawarkan beberapa alternatif solusi yang dapat diterapkan.

  1. Buku-buku LKS jenis tersebut tidak digunakan oleh siswa secara mandiri (misalnya dalam bentuk penugasan PR), tetapi digunakan dalam proses pembelajaran, di mana guru mengajak siswa untuk mendiskusikan rangkuman materi yang disajikan dengan anak, dan memperkaya wawasan siswa dengan pendapat-pendapat siswa. Dalam kaitannya dengan soal-soal pilihan ganda yang diberikan, sebaiknya dibahas di dalam kelas secara bersama-sama, dan dikembangkan kebiasaan mengemukakan alasan (reasoning) kenapa siswa menjawab pilihan jawaban tertentu. Jadi, soal-soal pilihan ganda dalam LKS tersebut bukan digunakan sebagai bentuk tugas, melainkan sebagai sarana memahami materi pelajaran. Untuk penugasan, guru harus memberikan model yang lainnya, misalnya model pemecahan masalah.
  2. Buku-buku LKS tersebut diperbaiki dan dikembalikan lagi kepada peran yang sebenarnya, yaitu sebagai lembar kerja siswa, yang merupakan pendamping dari buku teks pelajaran. Dalam buku LKS tersebut tidak perlu terdapat rangkuman materi pelajaran karena materi pelajaran sudah ada di buku teks, soal-soalnya bukan merupakan soal pilihan ganda, tetapi soal-soal yang mengembangkan ketrampilan berpikir kritis dan kreatif.

Kesimpulan

Sebagai penutup, dapat disampaikan kesimpulan penting atau mendasar sebagai berikut.

  1. Kemampuan membaca kritis, berpikir kritis, dan berpikir kreatif sangat penting untuk dikembangkan pada siswa-siswa SD tingkat rendah.
  2. Penggunaan buku LKS jenis tertentu di sekolah sebaiknya memperhatikan dampaknya terhadap pengembangan kemampuan membaca kritis, berpikir kritis, dan berpikir kreatif.

Referensi

Carr, Kathryn, S. (1990). How Can We Teach Critical Thinking? ERIC Clearinghouse on Elementary and Early Childhood Education. (ED326304)

Lynn, Davey., Monty, Neill. (1991). The Case Against a National Test. ERIC Clearinghouse on Tests measurement and Evaluation. (ED338703)

Vito, Perrone. (1991). On Standardized Testing. ERIC Clearinghouse on Elementary and Early Childhood Education. (ED338445)



posted by: afifah (reply)
post date: 01.22.09 (5:52 pm)

Mf pak, sy mhn bntuanx mengenai jenis2 LKS.mksh.(safhira_afifah@yahoo.co.id)



posted by: yadi,sma"17"1YK (reply)
post date: 05.31.09 (1:23 am)

Coba jika harga buku HVS tidak sampai lk Rp 50.000,-, tentu guru tidak akan memakai LKS yang terjangkau lk Rp 4.000,-Kapan ya pak buku terjangkau ? Buku sekarang isi maupun gambarnya sudah patut diacungi jempol.

Your Name:


Your Comment:


Blog ini hanya untuk iseng saja di kala senggang, meskipun kita semua pasti yakin bahwa tidak ada yang namanya waktu senggang itu, karena waktu pasti berguna, apa pun yang kita lakukan. Seperti dalam kerangka teori relativitas, maka dimensi waktu tidak berbeda dengan dimensi jarak, meskipun pada kenyataannya kita belum bisa mengendalikan si waktu itu. Apa pun yang kita lakukan...si waktu akan tetap berjalan.